Jumat, 18 September 2026
Hot

Berjalan Sejak 1990-an, Pengrajin Payung Kertas Asal Blitar Masih Bertahan

Kisah Asbani, pengrajin payung kertas asal Kelurahan Bendo, Kota Blitar, yang tetap bertahan merintis kerajinan tradisional sejak tahun 1990-an.

Article ad before first paragraph

HARIANEXPRESS, BLITAR – Asbani (70), seorang warga Kelurahan Bendo, Kota Blitar, masih tekun mempertahankan kerajinan payung kertas. Ia menggeluti bidang ini secara otodidak sejak tahun 1990-an.

Aktivitas pembuatan payung kertas ini dilakukan setiap hari. Prosesnya meliputi perangkaian bambu dan pemasangan kertas sebagai penutup.

Pada masa awal merintis usaha, Asbani sempat menerima pesanan dalam jumlah besar dari Sidoarjo. Saat itu, ia bahkan melibatkan sejumlah tetangga untuk membantu.

Sayangnya, usaha tersebut mengalami penurunan hingga akhirnya berhenti total.

Article ad in the middle of article

“Pelanggan tetap itu dari Sidoarjo, tapi tiba-tiba berhenti memesan sampai akhirnya tutup total karena sepi pembeli,” ujar Asbani.

Kondisi ini membuat Asbani meninggalkan kerajinan tersebut selama sekitar 10 tahun. Ia sempat beralih ke berbagai bidang usaha lain untuk menyambung hidup keluarganya.

Asbani sempat mencoba peruntungan dengan beternak jangkrik serta memelihara kambing dan sapi. Setelah itu, ia kembali memutuskan untuk membuat payung kertas.

Sekitar empat tahun lalu, kegiatan produksi payung kertas kembali ditekuni. Pandemi Covid-19 menjadi salah satu faktor yang memberinya waktu luang untuk kembali membuat payung.

Kegiatan pembuatan kini dijalankan kembali secara rutin.

“Empat tahunan ini mulai produksi lagi dan alhamdulillah selalu ada pesanan, meskipun tidak sebanyak dulu. Dari Tulungagung, Kediri, Surabaya, dan lokal Blitar,” tutur Asbani.

Dalam kurun waktu satu bulan, rata-rata penjualan payung kertas mencapai sekitar 350 buah. Harga jual produk dipatok sebesar Rp10 ribu per buah.

Pemanfaatan payung kertas ini beragam, mulai dari media tugas mewarnai bagi siswa sekolah hingga perlengkapan untuk makam. Seluruh tahapan pengerjaan saat ini dikerjakan sendiri oleh Asbani.

Bagian rangka memanfaatkan belahan bambu yang dirangkai menggunakan benang. Komponen tersebut kemudian dipasangkan pada batang kayu yang dibentuk sebagai gagang payung.

Bahan baku kayu sebagian didapatkan dari sisa limbah milik perajin lain guna menekan biaya operasional. Tahap penyelesaian dilakukan dengan merekatkan kertas pada kerangka menggunakan lem.

Bagi Asbani, keterampilan ini merupakan keahlian yang dipertahankan selama puluhan tahun.

“Sekarang ya dikerjakan sendiri. Yang penting masih ada yang pesan,” pungkasnya.

Article ad after last paragraph