HARIANEXPRESS, BLITAR – Misteri besar menyelimuti keberadaan Candi Gedog kuno dan pohon beringin raksasa yang terletak di pinggiran Blitar, Jawa Timur. Berdasarkan catatan sejarah, kawasan ini menyimpan jejak masa lalu dari berbagai era keagamaan dan kolonial yang saling tumpang tindih di satu lokasi.
Misteri Candi Gedog dan Pohon Beringin Raksasa di Blitar
Sebuah pohon beringin raksasa tumbuh dengan sangat subur di kawasan luar kota Blitar, Jawa Timur. Pohon ini menguasai area hampir seluas 100 meter persegi di tanah sekitarnya.
Pohon beringin sendiri dikenal secara luas sebagai salah satu dari lima simbol persatuan Indonesia. Simbol tersebut merepresentasikan satu negara dengan banyak akar budaya yang berbeda.
Spesimen beringin luar biasa di Blitar ini diperkirakan mulai tumbuh sejak masa kekuasaan Belanda di wilayah tersebut. Pihak kolonial kala itu mungkin melihat ekspansi alam tersebut sebagai cerminan dari perluasan kekuasaan mereka sendiri di seluruh Nusantara.
Pohon Beringin dan Sumber Air Bawah Tanah
Kerabat dari pohon beringin ini yang berada di India dilaporkan memiliki usia lebih dari 550 tahun. Sementara itu, beringin di Blitar dapat tumbuh sangat subur karena faktor lingkungan alam yang mendukung.
Pohon ini hidup di ladang yang subur dengan permukaan air tanah yang sangat dangkal. Sumber air tersebut hanya berjarak beberapa meter di bawah tanah dan dapat terlihat dengan mudah melalui sebuah lubang galian besar.
Makam Kuno dan Jejak Pemakaman Kristen
Lubang besar tersebut digali tepat di belakang deretan makam berukuran kecil. Jaraknya sangat dekat, bahkan hanya dibatasi oleh sebuah dinding bata yang melindungi sisa jenazah Yohanes Sunyoto dari pengaruh cuaca luar.
Meskipun batu nisan Yohanes Sunyoto tidak mencantumkan tanggal kematian, identitas agamanya dapat diketahui dari ubin yang membentuk simbol salib. Kawasan ini merupakan pemakaman Kristen yang telah digunakan sejak masa tinggal Stamford Raffles di Jawa.
Dari total delapan makam yang ada di lokasi tersebut, lima di antaranya telah dirusak oleh orang tidak bertanggung jawab. Dua dari makam yang dirusak tersebut merupakan makam milik anak-anak.
Aksi vandalisme ini menyasar simbol salib yang terpasang di makam-makam tersebut. Bagian salib telah dihilangkan dan hanya menyisakan bongkahan beton kasar yang bergerigi.
Sejarah Keagamaan di Kawasan Gedog
Pemakaman Muslim umumnya ditandai dengan keberadaan pohon kamboja, namun tidak ada satu pun pohon tersebut di dekat sini. Sebelum pengaruh agama lain masuk, wilayah ini didominasi oleh penganut agama Hindu.
Agama Hindu tercatat menjadi keyakinan yang paling dominan di wilayah Blitar ini hingga pertengahan abad ke-16. Kini, situs Candi Gedog menyisakan potongan sejarah kuno berupa ukiran perempuan yang sangat bernilai.
“Time capsule: Ancient carvings of women at the Gedog temple in Blitar, East Java,” tulis Erlinawati Graham.








